Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya

FORKAH 14 : 25 Hambatan Komunikasi antara Orang Tua dan Anak

Belakangan heboh prediksi pandemi Corona di Indonesia baru akan selesai 10 tahun ke depan. Prediksi ini berasal dari perhitungan Bloomberg terkait laju vaksinasi setiap negara.

FORKAH 14 : 25 Hambatan Komunikasi antara Orang Tua dan Anak

25 HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARA ORANGTUA DAN ANAK
========= 

Belakangan heboh prediksi pandemi Corona di Indonesia baru akan selesai 10 tahun ke depan. Prediksi ini berasal dari perhitungan Bloomberg terkait laju vaksinasi setiap negara. Berdasarkan perhitungan tersebut, rata-rata vaksinasi COVID-19 di Indonesia hanya 64.187 dosis per hari. Apabila cakupan vaksinasi tidak segera ditingkatkan, maka butuh waktu lebih dari 10 tahun untuk herd immunity dapat terbentuk di masyarakat Indonesia. Faktanya, makin banyak kita dengar orang di lingkar 1, 2, 3 kita yang terkena Covid-19. Ada yang survive, ada pula yang tidak. Fase pandemic ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Sementara itu, kehidupan di rumah tangga mulai banyak drama yang tidak perlu. Kalau dulu di awal pandemic ini kita terkaget-kaget untuk penyesuaian dengan sistem belajar baru pada anak-anak di rumah, maka sekarang kita menghadapi kendala yang tak kalah pelik. 

Anak-anak mulai bosan di rumah. Mulai bosan belajar online. Mulai ogah-ogahan. Kesadaran internal anak masih rendah. Jadwal pribadi anak amburadul. Orangtua harus mengejar-ngejar anaknya agar mau terlibat dan ikut di kelas online. Kalau tidak diingatkan, mereka ketiduran. Pola tidurnya berubah jadi lebih banyak begadang. Kadang anak ngumpulin tugas, kadang juga tidak. Guru langsung kontak orangtuanya melaporkan bahwa anaknya absen beberapa kali di kelas dan tidak mengumpulkan tugas. Orangtua kaget, panik, marah!

Tugas orangtua tidaklah mudah.

Mereka juga perlu menuntaskan tugas-tugas kerumahtanggan dan tugas-tugas kantor yang dikerjakan dari rumah. Jadwal orangtua juga padat. Tapi ternyata anak masih butuh didampingi. Tapi orangtua tidak tahu cara mengarahkannya bagaimana mengarahkan anak. Akhirnya, orangtua pakai cara-cara cepat, singkat, padat: marah-marah mengarahkan anak. Berharap anak sadar. Nyatanya, besok kejadian lagi kesalahan yang sama diulang kembali.

Drama rebutan handphone, rebutan laptop/ PC, minta didampingi, selalu bertanya kalau gak paham, lebih banyak gak pahamnya daripada pahamnya terhadap pembelajaran online, kadang teriak-teriak sehingga bikin pengang telinga orangtua. Pada kasus yang sudah pelik, stimulasi dari anak justru membuat orangtua justru yang mengalami “tantrum” alias mengamuk layaknya anak toddler (usia 2-3 tahun).

Nah, apa saja hambatan-hambatan komunikasi antara orangtua dan anak di masa pandemic ini? Bagaimana pula solusinya agar orangtua bisa mudah mengarahkan anak? Apa yang perlu diperbaiki dari skill komunikasi orangtua ke anak? Yuk belajar bersama di kelas free webinar via Zoom, diampu oleh Pak Ading, seorang Childhood Optimizer Trainer. Ia melatih para orangtua bagaimana mengoptimalkan masa kecil anaknya melalui strategi komunikasi efektif dan bermain penuh makna.

Catat waktu pelaksanaannya, 

Sabtu, 27 Februari 2021, 
jam 07.30-11.00 WIB. 

Link Pendaftaran : http://bit.ly/PendaftaranForkah14