Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya

BANGKITKAN INOVASI DIRI DENGAN “LIFT UP YOUR LIFE”

02 May 2018 09:59:43, by Administrator

Oleh: Asmaul Husnah (Guru SMA Al Hikmah Surabaya)

Pernahkah anda merasakan malas, bosan, hampa, tak bermakna, kurang menyenangkan, tak ada semangat untuk bekerja, tak ada  motivasi, dan tak ada inspirasi? Karena berada di tempat yang sama, menghadapi hal yang sama, menyelesaikan tugas yang sama, dan segalanya yang sama. Namun, bagaimana agar kita selalu aktif, kreatif, inovatif, dan motivatif dalam mengemban tugas?    Nah, mari kita maknai dan sikapi lima kata kunci “up” berikut berikut:

 

Wake up (bangun dari titik kejenuhan dan kemalasan)

Setiap orang punya mimpi, namun  tidak setiap orang punya keinginan untuk mewujudkan mimpi itu. Mimpi bukan hanya sebuah angan yang indah, namun mimpi akan terealisasi jika dibarengi tekad dan usaha keras untuk mewujudkannya. Gagal  meraih mimpi itu wajar karena kegagalan adalah sukses yang tertunda. Mewujudkan mimpi bukanlah hal mudah dan instan, namun butuh perjuangan. Keuletan dan kerja keras adalah kunci meraih mimpi. Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib (keinginan) suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Dalam Alquran, Allah juga memerintahkan, “Wahai orang yang berselimut1. Bangunlah2”. Secara tersirat Allah berjanji melalui perintah-Nya untuk bangun dan berusaha, bukan berdiam diri melainkan beraksi mewujudkan mimpi.

 

Dress up (berpenampilan yang baik)

Setiap manusia suka akan keindahan. Boneka manekin nampak menarik dan sedap dipandang manakala dibalut dengan pakaian yang serasi, rapi, dan harum. Siapa yang memandangnya akan tertarik dan membelinya tak peduli berapapun harganya. Demikian pula dengan pegawai. Misalnya, seorang guru akan lebih dikagumi dan kharismatik manakala tampil bersih, segar, dan rapi di depan para siswanya. Penampilan fisik yang baik, adalah langkah pertama untuk memikat dan menarik minat orang lain dalam usaha yang bergerak di bidang jasa atau pelayanan, termasuk dalam profesi mengajar. Meski demikian, tidaklah berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan kecakapan dari dalam diri atau inner beauty. Senyum, sapa, santun menjadi salah satu upaya memikat klien/siswa dalam mencapai kepuasan atau satisfaction.

 

Set up (menata diri)

Pengalaman adalah guru terbesar. Sukses gagalnya sebuah pengalaman dapat dievaluasi dan dapat dijadikan sebagai landasan dalam menentukan tindakan selanjutnya. Upaya mengevaluasi dalam mencapai yang terbaik merupakan usaha meningkatkan kinerja. Siapapun orangnya dikatakan profesional manakala sanggup merencanakan, melaksanakan, me-manage dan mengevaluasi apa yang dilakukannya secara optimal.

Dikatakan profesional bukan berarti bahwa kemampuan terbatas pada apa yang membidanginya, namun juga mampu menginteraksikan antara yang satu dengan lainnya. Pada dasarnya, seseorang dengan profesi yang mengedepankan pelayanan dapat diukur dengan:

  1. punya ketrampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan dengan bidang tersebut,
  2. punya ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka dalam membaca situasi, cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan,
  3. punya sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya,
  4. punya sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka untuk menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya.

 

Back up (siap dengan segala kemungkinan)

Semua kemungkinan bisa terjadi dalam dunia kerja, termasuk dalam profesi guru. Apa yang sudah kita persiapkan, karena sesuatu hal, tidak terealisasikan sesuai dengan rencana.

Dalam keseharian kita, tanpa kita sadari, sebetulnya banyak hal yang bisa kita pupuk yang pada suatu saat nanti mungkin sangat bermanfaat dan membantu kita pada saat kita berada pada posisi membutuhkan.  Kebiasaan positif tersebut antara lain seperti:

  • menjalin pertemanan

Dengan sesama umat Islam, kebiasaan positif ini otomatis akan menguatkan ukhuwah  dan tali silaturahim. Namun, dengan tidak memandang latar belakang seseorang, semakin banyak kita mengembangkan relasi dengan membangun kesan yang baik, maka akan semakin banyak orang yang akan siap membantu kita dan menyampaikan hal-hal positif tentang kita. Pada suatu saat tertentu, hal ini akan menjadi sangat penting dalam meningkatkan prestasi kita. Seperti kisah sukses Bill Clinton, yang kesuksesannya berhasil diraih berkat dukungan banyak relasi.

  • memelihara kepercayaan

Sekali kita merusak kepercayaan orang lain pada kita, maka kita tidak akan dipercaya lagi. Sebaliknya, jika kita selalu tampil sebagai orang yang bisa dipercaya, maka orang lain tidak akan ragu untuk menjalin hubungan baik serta membantu kita. Sebagai contoh, kita bisa belajar dari orang Jepang. Dengan segala kekuatan, kecerdasan, dan keuletannya, mereka biasa dipercaya dan disegani oleh siapapun.

  • kemauan untuk berkreativitas

Dengan terus berkarya, mengembangkan ide-ide cemerlang yang kita miliki, pada dasarnya dapat meningkatkan kemampuan problem solving kita. Sehingga, sewaktu-waktu kita dihadapkan pada situasi yang sulit, kita bisa mengambil langkah bijak.

  • kemauan untuk terus belajar

Tidak hanya sekedar agar bisa nyambung dengan topik pembicaraan saat diajak bicara oleh lawan bicara kita, mengikuti perkembangan terbaru tentang fenomena yang terjadi di sekitar kita, termasuk mau belajar teknologi, akan sangat bermanfaat dalam memudahkan aktivitas kita. Banyak membaca dan mau terus mencoba hal-hal baru yang terus berkembang, akan mengembangkan daya pikir dan skill kita.

 

Grow up (menumbuhkan potensi diri)

Setiap individu memiliki potensi besar yang bisa digali. Jangan hanya puas pada posisi tertentu. Kebutuhan siswa kita akan selalu berkembang. Sebagai guru, kita harus up to date. Otomatis, cara penyampaian kita dalam mengajar juga selayaknya mengikuti pekembangan saat ini. Jangan sampai dari tahun ke tahun kita hanya mengandalkan buku yang sama, materi yang sama, cara mengajar yang sama, dan hal-hal lain yang hanya bisa mencetak siswa dengan hasil belajar yang sama. Perubahan ke arah yang lebih baik mutlak diperlukan. Meski untuk total berubah pastinya tidak mudah, namun setapak demi setapak, jika kita mau dan berupaya, maka kita bisa selangkah lebih maju.

Berita Terkait
Link Terkait